⛱️ Pencipta Dengan Yang Dicipta Pasti

Pujisyukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah Antologi Islam dengan baik dan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah Filsafat Islam yaitu bapak Muh.Ridwan, S.Ag.,M.A Sesuatuyang dibuat/dicipta pasti sangat berbeda dengan zat, ujud dan sifatnya dengan sang pencipta, demikian juga jagat raya ini pasti sang pencipta adalah dia yang maha besar, maha kuasa, maha luar biasa yang berbeda dengan hasil ciptaannya. Dari semua ciptaannya antara satu sama yang lain saling berhubungan yang bahasa kerennya saling Mengemiskasih sang pencipta Saturday, 5 December 2015 Menjadikan undang-undang Allah mesti tunduk kepada norma-norma antarabangsa yang dicipta oleh manusia yang menjejaskan aqidah Agama adalah panduan hidup bagi pengantunya dan dalam agama mempunyai tatacara hidup yang sempurna dan baik. Yang pasti sama ada Islam, Hindu, Islamsebagai agama terakhir menjadi agama yang perlu diangkat nilai-nilai yang terkandung dalam ajarannya untuk membuktikan kebenarannya dan kesesuaiannya untuk kehidupan umat manusia. Kalau agama merupakan sebuah kepercayaan yang diyakini benar dan dapat dijadikan sebagai prinsip dalam hidup untuk bisa menggambarkan kehidupan tenang dan damai setiaporang pasti punya yang namanya teman, entah itu teman sekolah,teman kos,teman kelas,bahkan teman dekat yang terkategori dan sering diberi julukan sahabat. definisi sahabat atau teman dekat itu sangat banyak bahkan bagiku setiap orang memiliki definisi tersendiri tentang sahabatnya. namun yang ku tafsirkan dari beribu pengalamanku bertemu Manusiayang dicipta menurtu peta peta dan teladan Allah, juga memiliki kesucian, keadilan, kebenaran, dan bijaksana. Roh Allah adalah Roh pencipta, sedangkan roh kita adalah roh yang dicipta. Mikha mengemukakan bahwa Tuhan pasti menghukum bangsa Yehuda karena mereka kejam dan tidak adil terhadap sesamanya. Akan tetapi, dalam kotbah Mul(Kucu) Korban objek 😄SMK NEGERI 1 KUNINGANTERIMA KASIH KEPADA TEAM DAN CREWXII TKRO 4Mengisi dan menghibur pada saat jam pelajaran tidak ada guru 👍🏼 Perbedaansecara kualitas dan perbedaan secara esensi menunjukkan bahwa antara Pencipta dan yang dicipta pasti tidak sama. Alangkah bodohnya jika seseorang Seorangahli zikir, Asy-syaikh Al-Faqiih Al-Laithi pernah berkata : ‘sesiapa yg memelihara (selalu mempergunakan) tujuh aneka kalimah berikut yang digunakan dalam 7 keadaan , maka InsyaAllah akan tergolong kalangan mulia menurut pandangan Allah dan para malaikatNya, dan Allah akan terus mengampuni dosanya sekalipun bak buih lautan luas, MQsrkuI. 26 Abad yang lalu. Ketika Sang Buddha Menyangkal Paham Pencipta Dan Ciptaannya. Non Buddhist bertanya mengenai Buddha Dhamma, Siapa Pencipta Alam Semesta dalam ajaran Buddha dan siapa itu Buddha. Bagi Non Buddhis pemahaman akan Pencipta dan ciptaanya sangatlah penting. Namun umumnya pertanyaan ini tidak dijawab atau dijawab seadanya oleh seorang Buddhist dan akhirnya malah membuat seorang Non Buddhis tambah bingung. Hal ini wajar, karena pemahaman ajaran Buddha sangat kompleks. Bila seorang Non Buddhis bertanya “Siapakah Pencipta Alam Semesta dalam ajaran Buddha?” maka jawabannya TIDAK_ADA_PENCIPTA dalam ajaran Buddha. Biasanya seorang Non Buddhis setelah mendengar jawaban ini akan terkejut dan menganggap bahwa Ajaran Buddha sama seperti Ateis. Perlu ditegaskan bahwa ada perbedaan antara Ateis dengan ajaran Buddha walaupun keduanya menyangkal konsep Pencipta dan Ciptaannya. Selain itu, kaum yang disebut sebagai Ateis sudah ada semenjak zaman Sang Buddha, tapi mereka lebih dikenal sebagai kaum skeptik yang mana mereka selalu menyangkal apapun yang diyakini orang. Ateis menyangkal konsep Pencipta dan Ciptaannya didasarkan pada argumen atau teori yang sifatnya paradoks dari paham-paham yang diyakini oleh orang-orang yang percaya adanya Pencipta. Misalnya, orang yang percaya adanya Pencipta, meyakini bahwa Pencipta itu Maha Pengasih. Dan atas keyakinan tersebut orang Ateis akan membuat pertanyaan yang sifatnya paradoks dari paham tersebut, seperti “Kalo Pencipta Maha Pengasih kenapa Dia ciptain Neraka yang kekal, memangnya kejahatan manusia yang dilakukan seumur hidup sekalipun sebanding dengan hukuman yang kekal tersebut?”. Dari sini kita bisa melihat bahwa kaum Ateis berusaha menyangkal pemahaman Pencipta dan Ciptaannya berdasarkan argumen-argumen yang menjadi lawannya/paradoks. Hal ini berbeda dengan Sang Buddha, Sang Buddha menyangkal paham Pencipta dan Ciptaannya, karena Sang Buddha mengetahui secara pasti bahwa memang tidak ada Pencipta. Sang Buddha pernah menyatakan bahwa dengan kemampuannya sebagai seorang Sammasambuddha, Dia bisa melihat secara jelas segala peristiwa yang terjadi di sistem dunia/galaksi baik pada saat itu maupun masa lalu, dan jika mau bisa lebih dari itu. Sang Buddha juga menyatakan Dia mampu melihat 4 alam rendah dengan jelas Niraya/Neraka, Tiracchana/Binatang, Peta/Hantu Gentayangan dan Asura/Jin, 6 tingkat Dewa dengan 6 alam Surga-nya, dan bahkan 20 Alam Brahma yang lebih tinggi dari dunia Dewa. Tetapi pada saat itu, Sang Buddha tidak melihat satu pun sosok/individu yang dikenal manusia pada zamannya sebagai Pencipta walaupun mereka yang disebut-sebut kadang ada. Dalam artian mereka kalah dalam kemampuan dan pengetahuan jika dibandingkan dengan Sang Buddha. Ketika Sang Buddha menelusuri Alam Semesta, Dia menyadari bahwa bukan cuma Dia saja yang adalah seorang Sammasambuddha. Ternyata di sistem dunia/galaksi lain ada juga yang seperti Dia, seorang Sammasambuddha, dengan kata lain ada manusia di sistem dunia/galaksi lain. Dan menariknya anda mungkin pernah mendengar Buddha tersebut, Dia adalah Buddha Amithaba dari sebuah dunia/planet yang disebut Sukhavati. Bisa dikatakan Buddha Amithaba adalah Buddha dari sistem dunia lain yang paling populer di dunia Saha ini, tempat dimana Sang Buddha Gotama berada. Lalu yang menjadi pertanyaan “Jika tidak ada Pencipta, lalu bagaimana bisa ada Alam Semesta ini?” Jawaban Buddhistme sangat simpel karena apa yang ada di Alam Semesta ini tidak pernah tidak ada. Dalam pengertian yang lebih jelas tidak ada suatu zaman dimana Alam Semesta ini dulunya tidak ada. Mengapa demikian? Ada dua hal yang bisa saya sampaikan yang pertama dari Penjelasan Sang Buddha dan Pengembangan penjelasan Sang Buddha. Penjelasan Sang Buddha Sang Buddha pernah menjelaskan bahwa ketika Dia duduk dibawah pohon bodhi sebelum mencapai pencerahan sempurna. Beliau melihat dengan jelas bagaimana bumi ini terbentuk, bagaimana manusia bisa ada dibumi ini, bagaimana galaksi bisa seperti sekarang. Tetapi yang menjadi hal yang penting dalam bahasan ini adalah bahwa galaksi-galaksi yang ada di Alam Semesta ini bukan sekali ini saja terbentuk. Tapi sudah berkali-kali hancur dan terbentuk kembali. Setelah Dia melihat itu, Beliau kemudian berhenti di satu titik. Dalam penjelasan lainnya Sang Buddha menyatakan bahwa unsur-unsur utama yang membentuk semesta tidak akan musnah, dengan kata lain unsur-unsur utama ini kekal. Berdasarkan ketentuan yang kita pahami bersama, sesuatu yang kekal tidak punya awal. Pernyataan Sang Buddha ini dapat ditemukan dalam Kevaddha Sutta, dimana dikisahkan ada seorang Bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha “Dimana Keempat unsur utama lenyap tanpa sisa?”. Pada saat itu, Sang Buddha mengoreksi pertanyaan Bhikkhu tersebut dengan mengatakan “tidak seharusnya bertanya dengan cara ini Di manakah empat unsur utama – unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur angin – lenyap tanpa sisa?’ melainkan, beginilah seharusnya pertanyaan itu diajukan Di manakah tanah, air, api, dan angin tidak menemukan landasannya?’”. Dalam Brahmajala Sutta dengan tegas Sang Buddha menyangkal pandangan yang menyatakan jika kita mati, maka kita musnah tanpa sisa, begitu juga pandangan yang menyatakan tidak ada dunia lain setelah kematian yang mana pandangan ini populer di kalangan kaum yang sekarang disebut Athies. Lalu bagaimana bisa Alam Semesta seperti sekarang? Sang Buddha menjelaskan bahwa di Alam Semesta ini ada suatu hukum, Sang Buddha menyebutnya Dhamma Niyama. Dhamma Niyama ini adalah sifat dari Alam Semesta itu sendiri. Seperti air dengan sifatnya, jika kena panas bisa menguap, bila kena dingin bisa membeku. Air dan sifatnya merupakan satu bagian demikian juga Alam Semesta dengan Dhamma Niyama adalah satu bagian. Karena Alam Semesta punya sifatnya sendiri oleh sebab itulah Alam Semesta ini menjadi sebagaimana sifatnya itu. Orang-orang yang percaya paham Penciptaan dan Ciptaannya, selalu menganggap bahwa Hukum Alam diciptakan. Mereka meyakini ini disebabkan karena pola penilainnya bersifat mundur, dari masa sekarang ke masa lalu. Mereka akan selalu memulai pertanyaan seperti berikut Tidak mungkin Alam Semesta yang begitu luar biasa ini Sekarang terjadi begitu saja, jika kita tarik mundur Masa Lalu pasti kita akan menemukan penyebab utama yang dengan kehendaknya jadilah apa yang seperti sekarang karena terjadi berdasarkan kehendaknya maka disebut Pencipta”. Tetapi kenyataannya tidak demikian, dalam ilmu ekonomi ada yang namanya hukum ekonomi. Hukum ini menyatakan “Jika permintaan bertambah maka harga akan naik”. Jika seseorang ditanya siapa yang ciptain hukum ini, secara sepintas mereka akan menjawab para pedagang dan pembeli lah yang ciptain. Tetapi benarkah demikian? Apakah ada pedagang dan pembeli pada saat bertransaksi mereka kemudian berpikir “Aku akan menciptakan hukum ekonomi”, sehingga atas dasar kehendak ini mereka disebut Pencipta? Dari sini, kita bisa menyadari mengapa Sang Buddha menyangkal pandangan yang menyatakan adanya Isvara Sosok Tunggal Yang Atas Kehendaknya Menciptakan Alam Semesta Sehingga disebut Pencipta. Semua agama besar yang didalam ajarannya menjelaskan tentang dunia lain, meyakini adanya Isvara Dalam Kitab Buddhist sebenarnya ada juga kisah mengenai “Pencipta” yang ciri-cirinya mirip dengan yang tertulis dalam ajaran Kristen, Islam maupun Hindu. Kisah ini dapat ditemukan dalam Kevaddha Sutta, Brahmanimantanika Sutta, Brahmajala Sutta, dll. Tapi disini Sang Buddha justru meluruskan pandangan salah dari Maha Brahma bernama Baka yang mengira dirinya adalah Pencipta. “Mengapa tidak ada Pencipta?” Perbandingan pandangan Sang Buddha dengan Non Buddhist khususnya agama Abrahamik dalam hal proses Alam Semesta. Saya kemudian membuat beberapa hipotesa, salah satunya sebagai berikut 1. Bila Alam Semesta ini diciptakan baru sekali, seperti yang dinyatakan agama lain agama Abrahamik, katakanlah Alam Semesta ini diciptakan 1000 tahun yang lalu. Namun mau bagaimana pun waktu 1000 tahun tidak sebanding dengan keberadaan Pencipta yang tidak punya awal. Lalu apa yang Pencipta lakukan sebelum ciptain Alam Semesta? Andaikan Alam Semesta diciptakan dalam waktu Satu Trilliun pangkat Satu Trilliun sekalipun tetap saja tidak sebanding dengan tanpa awal, lalu apa yang dilakukan pencipta sebelum Satu Trilliun pangkat Satu Trilliun? 2. Jika Alam Semesta ini diciptakan dan andai kata Ruang Angkasa meliputi semua bagian, lalu pertanyaannya dimana Pencipta sebelum dia menciptakan Ruang Angkasa? segala sesuatu yang exist pasti menempati Ruang mau wujud ataupun gaib. Mengingat Sang Buddha pernah menyatakan bahwa Alam Semesta sangat luas, seorang Sammasambuddha berkuasa atas sistem dunia. Bahkan Sang Buddha menyatakan dalam kesempatan terpisah ada 4 hal yang tidak bisa dibayangkan manusia biasa, yaitu Alam Semesta, Hukum Karma, Nibbana, Seorang Sammasambuddha. Dari hipotesa diatas kemudian muncul pertanyaan seseorang tidak mungkin mengatakan bahwa tongkat besi diciptakan oleh besi, jika besi punya sifat-sifat tertentu hukum yang memampukan terbentuknya bentuk tongkat, maka bisa dipastikan tidak ada Pencipta, lalu mengapa pandangan mengenai Pencipta dan Ciptaannya bisa ada? Sang Buddha menjelaskan bahwa itu semua akibat salah berpikir dan juga adanya sosok tertentu yang salah berpikir mengenai dirinya, contohnya Maha Brahma Baka, dan pengikutnya seperti yang tertulis dalam Kevaddha Sutta, Brahmanimantanika Sutta, Brahmajala Sutta, dll Dari penjelasan diatas mungkin timbul pertanyaan “Jika tidak ada Pencipta, lalu untuk apa kita hidup? Apa tujuan kita didunia?”. Mau bagaimanapun saya menyadari bahwa paham Pencipta ada kaitannya dengan keberadaan manusia. Didalam ajaran Buddha, diajarkan bahwa tidak ada tujuan khusus yang harus dicapai semua manusia, tetapi secara umum manusia mengharapkan kebahagiaan, terbebas dari penderitaan. Jika di agama non Buddhist, mereka cenderung ingin masuk surga agar bahagia dan bisa menyembah serta berada dekat dengan “Penciptanya”. Lalu bagaimana dengan umat Buddha? Dalam ajaran Buddha dikenal alam Surga dan alam Brahma, namun kedua alam ini, yang keadaanya jauh lebih menyenangkan dari manusia, tetap berada dalam lingkaran Samsara. Sang Buddha menuturkan bahwa ada 4 hal yang membuat seorang makhluk di alam surga maupun brahma terlahir kembali ke alam lain yang lebih rendah, salah satunya adalah kejatuhan yang sudah dicontohkan dengan sangat baik dalam ajaran Kristen, Islam dan Hindu. Oleh karena itu, kedua alam ini bukan tujuan umat Buddha. Sang Buddha sampai akhir hayatnya justru mendorong agar semua makhluk mencapai/merealiasasi Nibbana/Nirvana Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku Aku tidak tertarik untuk membuatmu menjadi murid-Ku Aku tidak tertarik untuk memutuskan hubunganmu dengan gurumu yang lama. Aku bahkan tidak tertarik untuk mengubah tujuanmu, karena setiap orang ingin lepas dari penderitaan. Cobalah apa yang telah Kutemukan ini, dan nilailah oleh dirimu sendiri. Jika tidak, janganlah engkau terima Sang Buddha Bertrand Russell dari Inggris bertanya “Kalau semua dicipta oleh Allah, siapa yang mencipta Allah?” Ini dijadikan alasan bagi dia untuk menjadi seorang atheis. Ia menganggap agama Kristen adalah agama yang self-defeating. Akibatnya, banyak orang intelektual atheis senang sekali dengan buku itu. Setelah saya baca, saya rasa dia tidak intelek. Dia hanya seorang pandai yang bodoh. Seorang cendekiawan yang bodoh, karena sudah punya presuposisi awal yang sudah salah, yaitu ia percaya Allah bisa dicipta. Kalau Allah bisa dicipta, ia pasti bukan Allah. Kalau Allah adalah Allah, pasti tidak bisa dicipta. Dari usia 26 tahun saya sudah menilai para filsuf, yang logikanya begitu kacau tanpa theologi. Jika Allah bisa dicipta, maka pasti dia bukan Allah. Inilah presuposisi orang Kristen. Maka Allah haruslah Allah. Kalau orang berkata, “semua dicipta maka allah pun harus dicipta.” Di sini kita melihat kesalahan menggeneralisasi sesuatu yang tidak sama. Allah bukan ciptaan, tetapi Pencipta. Maka ciptaan berbeda dari Pencipta. Aristoteles dari sekitar 300 BC sudah membedakan antara semua penyebab dengan penyebab utama, yaitu Penyebab Pertama, yang menyebabkan segala sesuatu, tetap sendiri-Nya tidak disebabkan oleh apa pun. Kemudian di abad 13, Thomas Aquinas memakai apa yang dirumuskan oleh Aristoteles ini di dalam buku theologinya, yaitu Summa Theologica. Di sini Aquinas mencoba membicarakan tentang kebenaran rasional. Kebenaran yang sejati bukanlah kebenaran yang dijadikan objek studi, tetapi Kebenaran itu harus menjadi subjek yang mengajar kita, dan Ia merupakan Pribadi. Allah adalah Kebenaran yang Berpribadi dan Hidup yang menjadi Subjek bagi hidup kita. Ia tidak bergantung penerimaan atau penolakan manusia, disanjung atau tidak disanjung manusia. Allah yang sejati hanya satu, yaitu Allah pada diri-Nya sendiri. Semua ilah-ilah pada filsafat, dalam pikiran manusia, hanyalah bayang-bayang yang semu. Hanya melihat Yesus Kristus barulah kita mengenal Allah yang di sorga. Ini ditegaskan oleh Cornelius Van Til, bahwa ilah yang diperdebatkan di kelas-kelas filsafat hanyalah semu, seperti melihat bulan di kaca, bukan bulan yang di angkasa. Tuhanku adalah Tuhan yang nyata dan sungguh, Tuhan yang hidup. Allah menyatakan kebenaran-Nya dengan firman-Nya. Orang beriman kepada apa yang Allah katakan. Alkitab menyatakan bahwa Abraham adalah Bapa orang beriman. Di sini kita melihat bahwa Allah mulai membicarakan kebenaran Allah melalui wahyu-Nya, di dalam firman. Allah menyatakan firman begitu penting dan merupakan dasar hidup. Kita harus fokus kepada firman, jangan main handphone atau main kuku. Kita harus memperhatikan, harus mendengar firman. Kita harus mendengar bahwa Allah itu esa, dan harus mengasihi-Nya dengan segenap hati dan segenap jiwa kita. Mendengar firman Tuhan merupakan hal penting. Agama Kristen adalah agama mendengar. Kebudayaan Yahudi adalah kebudayaan mendengar. Kebudayaan Yunani adalah kebudayaan melihat. Melihat menemukan ilmu; mendengar menemukan iman. Maka gereja adalah agama yang berkhotbah. Orang yang tidak mementingkan mendengar tidak akan bertumbuh. Tetapi sekarang banyak orang Kristen yang tidak ingin mendengar, tetapi berbicara dan Tuhan yang disuruh mendengar. Ketika Musa turun gunung, ia mendengar suara yang kacau. Yosua menjawab bahwa itu suara perang. Tetapi Musa tahu itu bukan suara perang. Itu suara tidak benar. Di sini kepekaan Musa berbeda dengan Yosua. Musa melihat itu suara praise and worship yang salah. Penyembahan yang menggebu-gebu tetapi kepada allah yang salah, yang disebut YHWH malah adalah lembu. Orang bukan menyembah Tuhan dan mencari kerajaan Allah, tetapi malah mencari kelancaran dan kemakmuran. Doa pada allah tetapi allahnya adalah materi. Pakai musik dan lagu kacau, pelampiasan nafsu yang tidak lagi seperti sedang menyembah Allah, tetapi pemuasan emosi pribadi. Begitu Musa turun melihat mereka menyembah lembu, Musa menghancurkan kedua loh batu yang dituliskan oleh Allah sendiri. Kemarahan Musa sesuai dengan kemarahan Tuhan, maka Tuhan tidak marah ketika dia memecahkan kedua loh batu. Banyak orang mengatakan bahwa menjadi hamba Tuhan harus sabar, tetapi kemarahan seorang hamba Tuhan jika sesuai dengan waktu dan kemarahan Tuhan, Tuhan tidak marah tetapi malah dipakai menjadi hamba yang berkuasa. Ketika Tuhan Yesus marah dan mengusir pedagang di bait Allah, Tuhan tidak marah malah sesuai dengan emosi Tuhan. Jangan sembarangan mengutip lalu marah-marah. Kepekaan Musa menjadi teladan orang yang melayani Tuhan. Jika kuantitas tidak sebaik kualitas, maka semakin besar gereja semakin mempermalukan Tuhan. Ketika Musa melihat semak belukar yang terbakar, ia mendekat dan itulah pertama kali ia mendengar istilah “suci” muncul dan ia harus melepaskan kasutnya. Di situ ia mau mendengar. Lalu Tuhan perintah dia untuk menghadap Firaun dan meminta orang Israel keluar dari Mesir untuk menyembah Allah. Musa langsung menolak. Ia takut menghadap Firaun. Ia tidak mau susah, seperti banyak pemuda saat ini. Ia mengeluarkan banyak alasan dan Tuhan mematahkan setiap alasan. Allah yang sejati hanya satu, yaitu Allah pada dirinya. Semua ilah-ilah pada filsafat, dalam pikiran manusia, hanyalah bayang-bayang yang semu. Kehendak Tuhan tidak akan dibatalkan hanya karena kita menolak. Dia yang memimpin dan memerintah. Kehendak Tuhan yang menentukan panggilan kita, bukan keinginan untuk sukses atau tidak suksesnya pelayanan kita. Siapa yang menyuruhku, itulah permintaan Musa. Musa ingin tahu siapa yang mengutus dia. Allah menjawab Musa “Aku adalah Aku. Aku yang mengutus engkau” untuk membebaskan orang Israel dari perbelengguan Mesir. Ini adalah pengertian akan Allah yang paling mendalam dinyatakan oleh Alkitab. Pernyataan seperti ini tidak ada di dalam konsep filsafat atau agama mana pun di dalam sejarah. Allah adalah Alfa dan Omega, yang ada pada diri-Nya sendiri dan tidak bergantung pada apa pun dan siapa pun. Kalau Allah ada pada diri sendiri, apakah mungkin ada ciptaan yang juga ada pada diri sendiri. Apakah kita percaya ada yang merupakan awal? Saya tanya Mulai kapankah 2 + 2 = 4? Apakah mulai dari ayah kita? Atau 2 + 2 = 4 tidak perlu ada permulaan, karena ada pada dirinya sendiri. Maka ada hal yang tidak perlu ada permulaan. Maka ada eksistensi kontigen dan eksistensi inkontigen. Jadi ada hal-hal yang kontigen, yaitu ada awal dan ada akhir, seperti kelahiran dan kematian seseorang. Tetapi ada hal-hal yang inkontigen, yaitu yang tidak perlu harus ada awal dan atau akhir. Allah tidak perlu harus ada awal atau akhir. Ketika saya hidup yang bersifat kontigen, saya bisa diteruskan oleh anak saya, lalu cucu saya, sehingga menjadi inkontigen yang bergantung kontigen. Tetapi ada inkontigensi yang tidak bergantung pada kontigensi, yaitu Allah. Allah tidak bergantung kepada semua keberadaan kontigen apa pun. Yang kekal tidak membutuhkan awal dan akhir, merupakan keberadaan inkontigen dan menjadi penyebab semua eksistensi kontigen. Allah tidak mungkin berada karena kita percaya. Ketika kita percaya baru Allah ada? Itu mustahil. Juga Allah tidak mungkin menjadi tidak ada karena kita tidak percaya. Allah bersifat kekal, dan yang kekal itu absolut. Maka yang kekal menjadi penyebab yang kontigen. Dengan demikian kita bisa mengenal Allah yang sejati. Amin. … Sumber Sekilas KIN 2015b-04 Pengguna Brainly Pengguna Brainly Alam semesta ini pasti ada yang menciptakan dan yang menciptakan alam semeta ini adalah Allah Swt. Maka dari itu Allah mempunyai sifat wajib wujud ada.PembahasanSifat-sifat Allah merupakan sifat-sifat yang terdapat pada dzat Allah, yang dimana sifat-sifat Allah dibagi menjadi 3 kelompok yakni sifat wajib Allah, sifat jaiz Allah, dan sifat mustahil Allah. Sifat wajib berarti sifat-sifat yang pastinya melekat pada dzat Allah. Sifat wajib berjumlah 20 dan diklasifikasikan menjadi 4 golongan, yakniNafsiyahberjumlah 1 berjumlah 5 berjumlah 7Qudrat. Iradat.' berjumlah 7 SOALSalah satu sifat wajib Allah yaitu wujud yang mempunyai arti "ada", maksudnya adalah keberadaan Tuhan dipastikan ada namun kita tidak dapat melihatnya. Salah satu bukti adanya keberadaan Tuhan, yaitu terciptanya alam semesta, adanya kitab-kitab suci, adanya malaikat, nabi, dan suci Al-Qur'an yang menjelaskan tentang siapa yang menciptakan alam semestaQS. Al-Baqarah ayat 29هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖArtinya"Dialah Allah yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu."Pelajari lebih lanjutJelaskan sifat-sifat Allah sifat-sifat Allah sifat wajib Allah jawabanKelas 10 MAMapel Akidah AkhlakBab 2 - Ayo Mengenal Sifat-sifat Allah kategorisasi kunci wujud, sifat wajib

pencipta dengan yang dicipta pasti